Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri 50 sen dari laci ayah. Ayahku segera menyadarinya. Beliau membuat aku dan adikku berlutut menghadap tembok, dengan sebuah tongkat bamboo ditangannya..."Siapa yang mencuri uang itu..?"Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan "Baiklah...kalau begitu kalian berdua layak dipukul...!"Dia mengangkat tongkat bamboo itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba adikku mencengkram tangannya dan berkata "Ayah...aku yang melakukannya...!"Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku secara bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya, sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan napas. Sesudahnya beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi..."Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang...kamu layak dipukul sampai mati...! Kamu pencuri tidak tahu malu...!!"...
Malam itu, Ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak meneteskan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, tiba-tiba saya mulai menangis meraung-raung, adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan bekata "Kak jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi"
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak mempunyai keberanian untuk mengakku. Bertahun-tahun telah lewat tetapi insiden itu masih terlihat seperti baru kemarin. Aku tidak akan pernah lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahun dan aku 11 tahun...
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA dipusat Kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah Universitas Provinsi. Malam itu, ayah berjongkok dihalaman, menghisap rokok tembakaunya bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas "Apa gunanya...? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus...?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar, ke hadapan ayah dan berkata "Ayah saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi...telah cukup membaca banyak buku..." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya..."Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah...?" Bahkan jika berarti saya mesti mengemis dijalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai...!"
Dan begitu kemudian, ia mengetuk setiap rumah didusun untuk meminjam uang. Aku mengulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang bengkak dan berkata "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya...Karena kalau tidak ia tidak akan bisa meninggalkan jurang kemiskinan ini..." Aku sebaliknya telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke Universitas...
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan beberapa kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap kesamping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantalku: "Kak, masuk ke Universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."
Aku memegang kertas itu diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaruku hilang...Tahun itu adikku berumur 17 tahun dan aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya dilokasi kontruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ke-3. Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan "Ada seorang penduduk dusun menunggumu diluar sana..." Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku...? aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya "Mengapa kau tidak bilang pada teman sekamarku bahwa kamu adalah Adikku...?" Dia menjawab, tersenyum..."Lihat bagaiman penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika tahu saya adalah adikmu...? Apa mereka tidak akan menertawakanmu" Aku merasa terenyuh dan air mata memenuhi mataku. Aku menyepu semua debu-debu dari adikku dan tersekat-sekat dalam kata-kataku "Aku tidak perduli omongan siapapun...! Kamu adalah adikku apapun juga...! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu..." Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan terus menjelaskan "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu..." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku kedalam pelukanku dan menangis, menangis dan menangis...Tahun itu adikku berusia 20 tahun dan aku 23 tahun...
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti dan bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang aku menari seperti gadis kecil didepan ibuku "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersikan rumah kita" Tetapi katanya, sambil tersenyum "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya...? Ia terluka waktu memasang kaca jendela baru itu..."
Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku, melihat wajahnya yang kurus, 100 jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya "Apakah itu sakit...?" aku menanyakannya..."Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja dilokasi kontruksi, batu-batu berjatuhan ke kakiku setiap waktu bahkan itu tidak menghentikan aku bekerja dan..." ditengah kalimat itu dia terhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu adikku berusia 23 dan aku 26...
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali aku dan suamiku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus melakukan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan "Kak, jagalah mertuamu saja, saya akan menjaga Ayah dan Ibu disini..."
Suamiku menjadi direktur pabrik, kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, ketika adikku memperbaiki sebuah kabel diatas sebuah tangga, ia mendapat sengatan listrik dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu mengapa kamu menolak menjadi manajer...? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius pada wajahnya, ia membela keputusannya "Pikirkan kakak ipar - ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan...?" Mata suamiku dipenuhi air mata dan kemudia keluar kata-kataku yang sepata-patah "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku...!"...."Mengapa membicarakan masa lalu..?" adikku menggenggam tanganku. Tahun itu ia berusia 26 dan aku 29...
Pada saat berusia 30 tahun Adikku menikahi gadis petani dari dusun. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi...?" tanpa berpikir ia menjawab "KAKAK ku..."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat "Ketika SD ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama 2 jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberkan sati dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapa memegang sumpitnya. Sejak hari itu saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya..."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu, semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku...Kata-kata begitu susah keluar dari bibirku "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku..." Dan dalam kesempatan yang berbahagia ini, didepan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai....
No comments:
Post a Comment